PSG: Madrid Mau Mbappe? Serahkan Vinicius Jr

Madrid Mau Mbappe

PSG: Madrid Mau Mbappe? Serahkan Vinicius JrSembilan musim bermain di Serie A rupanya tinggalkan kesan-kesan yang jelek buat Mattia De Sciglio, karena sikap beberapa orang Italia yang menyukai melemparkan kritik pedas dan jatuhkan psikis pemain.

Semenjak umur dini, Mattia De Sciglio sudah mengawali kariernya di Negeri Pizza bersama sekolah tinggi AC Milan. De Sciglio bela Rossoneri semenjak musim 2011 sampai 2017, dan mainkan keseluruhan 133 pertandingan dengan bantuan empat assists di semua gelaran.

Baca Juga: Peranan Mason Mount Makin Penting Untuk Tim nasional Inggris

Masuk musim panas 2017/2018, Sciglio lalu dilepaskan ke Juventus yang memerlukan bek kanan selesai Dani Alves keluar ke Paris Saint-Germain. Tetapi di Turin, De Sciglio alami pengurangan perform dan hanya dimainkan dalam 62 pertandingan sepanjang tiga musim.

Akhirnya, Dia juga dilepaskan ke Olympique Lyon pada bursa musim panas 2020 dengan status utang sepanjang satu musim. Bersama Les Gones, De Sciglio hampir selalu dimainkan sebagai starter dengan selama ini telah mencatatkan 24 performa di semua persaingan

Menjelang kontrak pinjamannya habis, Agen Judi Online Resmi De Sciglio akui malas pulang daerah ke Itali untuk kembali bermain bersama Juventus. Walau dengan status pemain tim nasional Italia, De Sciglio ternyata tidak kerasan bermain di Serie A.

De Sciglio akui cukup benci dengan mentalitas beberapa kritikus sepakbola di Italia. Bek kanan 28 tahun itu rasakan kembali kenyamanan bermain sepak bola karena Prancis mempunyai budaya dan mentalitas yang cukup berlainan.

“Saya sesungguhnya telah lumayan lama ingin bermain di luar negeri. Sekarang ini Bandar Judi Online Terlengkap, saya benar-benar nikmati kehidupan di Prancis. Saya telah tidak nyaman bermain di Italia,” tutur Mattia de Sciglio seperti diambil dari Football Italia.

Artikel Terkait:  Daftar Top Skor Liga Italia 2020-2021

“Saya memperoleh kritikan yang lumayan hebat pada musim pertama bersama AC Milan. Sebagai pemain muda, saya pasti tidak terlatih mendapatkan tindakan semacam itu. Tetapi, saya belajar tidak untuk dengarkan semua kritikan.

“Di Italia, mereka seringkali lemparkan sanjungan ke pemain dalam sekejap. Tetapi bandar slot online terbesar, mereka bisa juga jatuhkan seseorang dalam saat yang lebih singkat. Sayang, itu ialah mentalitas dan budaya yang berkembang di situ. Di Prancis, saya dapat kembali nyaman bermain sepak bola. Saya mendapati kenyamanan yang sempat pernah raib.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *